Wisata Religi Sidoarjo 2026: 7 Makam Bersejarah untuk Diziarahi
Daftar Isi
- Mengapa Wisata Religi Sidoarjo Menarik?
- 1. Makam Dewi Sekardadu di Kepetingan
- 2. Makam KH Ali Masâud atau Mbah Ud di Pagerwojo
- 3. Makam Mbah Zainal Abidin di Terung
- 4. Makam Mbah Sholeh Semendi di Krembung
- 5. Makam Mbah Usman di Sono
- 6. Makam KH Hamdani di Siwalanpanji
- 7. Makam KH Ahmad Siroj di Sidoarjo
- Rekomendasi Rute Ziarah
- Tips Praktis Ziarah di Sidoarjo
- Waktu Terbaik untuk Berkunjung
- FAQ
- Apakah makam-makam di Sidoarjo dapat dikunjungi gratis?
- Apakah semua makam dapat dikunjungi dalam satu hari?
- Makam mana yang paling unik dari sisi perjalanan?
- Apakah bus besar bisa masuk ke semua lokasi?
- Apakah anak-anak boleh ikut berziarah?
- Apa yang perlu dibawa?
- Apakah boleh mengambil foto di kompleks makam?
- Kesimpulan
Sidoarjo tidak hanya dikenal sebagai kota industri, penghasil udang, dan daerah penyangga Surabaya. Kabupaten ini juga menyimpan jejak penyebaran Islam, tradisi pesantren, serta kisah tokoh lokal yang terus dirawat melalui kegiatan ziarah.
Per 16 Oktober 2026, sejumlah makam bersejarah di Sidoarjo masih menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sebagian berada di tengah permukiman, sedangkan lainnya memerlukan perjalanan melewati kawasan tambak. Karena informasi jam kunjungan dan akses dapat berubah, pengunjung sebaiknya mengonfirmasi kondisi terbaru kepada pengurus makam atau pemerintah desa.
Panduan Wisata Religi Sidoarjo 2026: 7 Makam Bersejarah untuk Diziarahi berikut merangkum karakter lokasi, rute umum, serta hal-hal yang perlu diperhatikan. Jika sedang menyusun perjalanan, baca pula bagian tips praktis ziarah sebelum berangkat.
Mengapa Wisata Religi Sidoarjo Menarik?

Posisi Sidoarjo yang dekat dengan Surabaya menjadikannya mudah dijangkau melalui jalan tol, kereta api, bus antarkota, maupun kendaraan pribadi. Dari pusat Surabaya, perjalanan menuju pusat Kota Sidoarjo umumnya memerlukan sekitar 45â90 menit, tergantung titik keberangkatan dan kepadatan lalu lintas.
Daya tarik wisata religi di wilayah ini terletak pada keragaman ceritanya. Ada makam yang dikaitkan dengan keluarga Wali Songo, ulama pesantren, tokoh pembuka permukiman, hingga bangsawan pada masa peralihan Majapahit menuju kesultanan Islam.
Perlu diingat bahwa sebagian riwayat berkembang melalui tradisi lisan. Versi cerita antara juru kunci, masyarakat, dan sumber sejarah tertulis dapat berbeda. Peziarah sebaiknya menghargai tradisi setempat tanpa memperlakukan seluruh cerita lisan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
1. Makam Dewi Sekardadu di Kepetingan
Makam Dewi Sekardadu berada di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran. Tokoh ini dalam tradisi masyarakat dikisahkan sebagai ibu Sunan Giri dan putri penguasa Blambangan. Kompleks makamnya menjadi salah satu tujuan ziarah paling dikenal di Sidoarjo.
Keunikan utamanya adalah lokasi di kawasan pesisir dan tambak. Pengunjung dapat menempuh jalur darat melalui jalan desa, tetapi kondisi jalannya perlu diperiksa terlebih dahulu, terutama setelah hujan. Sebagian rombongan memilih menggunakan perahu dari dermaga lokal karena perjalanan air menawarkan pengalaman berbeda.
Kawasan Kepetingan mempunyai lingkungan yang lebih tenang dibandingkan pusat kota. Meski demikian, fasilitasnya relatif terbatas. Bawalah air minum, pelindung matahari, obat pribadi, dan uang tunai secukupnya.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Tanyakan kondisi pasang, cuaca, dan layanan perahu sebelum berangkat.
- Gunakan alas kaki yang tidak licin.
- Hindari perjalanan air ketika cuaca memburuk.
- Jangan meninggalkan sampah di kawasan makam atau tambak.
- Gunakan operator perahu lokal yang menyediakan perlengkapan keselamatan.
2. Makam KH Ali Masâud atau Mbah Ud di Pagerwojo
KH Ali Masâud, yang akrab disebut Mbah Ud, dikenal masyarakat sebagai ulama kharismatik Sidoarjo. Makamnya berada di kawasan Pagerwojo, Kecamatan Buduran, dan kerap didatangi santri, warga setempat, serta peziarah dari luar kota.
Dibandingkan Kepetingan, akses menuju Pagerwojo lebih mudah karena berada di kawasan permukiman dan tidak jauh dari pusat kota. Kendaraan roda dua paling praktis digunakan ketika jalan lingkungan sedang ramai. Rombongan dengan bus besar sebaiknya berkoordinasi lebih dahulu mengenai tempat turun dan parkir.
Suasana dapat menjadi lebih padat menjelang akhir pekan, malam Jumat, atau pada agenda haul. Jadwal haul 2026 maupun kegiatan khusus lainnya harus diperiksa melalui pengurus setempat karena waktu pelaksanaannya dapat berubah.
Saat berziarah, pengunjung dianjurkan menjaga ketenangan dan tidak menghalangi akses warga. Jika area utama sedang penuh, tunggulah di tempat yang telah diarahkan pengurus.
3. Makam Mbah Zainal Abidin di Terung
Makam Mbah Zainal Abidin berada di kawasan Terung, Kecamatan Krian. Dalam tradisi lokal, tokoh ini sering dikaitkan dengan sejarah Kadipaten Terung dan masa perkembangan awal Islam di wilayah Sidoarjo bagian barat.
Krian sendiri merupakan salah satu simpul transportasi penting di Sidoarjo. Wilayahnya dapat dicapai melalui jalan raya penghubung Surabaya, Mojokerto, dan Sidoarjo. Stasiun Krian juga dapat menjadi titik kedatangan bagi peziarah yang menggunakan kereta komuter, lalu perjalanan dilanjutkan dengan angkutan lokal.
Daya tarik kompleks ini bukan hanya kegiatan ziarah, melainkan juga narasi sejarah kawasan Terung. Pengunjung yang tertarik pada sejarah sebaiknya berbicara dengan pengurus atau tokoh desa untuk memahami versi riwayat yang hidup di masyarakat.
Hindari mengambil foto nisan atau peziarah dari jarak dekat tanpa izin. Beberapa kompleks makam memiliki area tertentu yang tidak boleh dimasuki sembarangan.
4. Makam Mbah Sholeh Semendi di Krembung
Makam Mbah Sholeh Semendi berada di wilayah Krembung, Sidoarjo bagian selatan. Masyarakat setempat mengenangnya sebagai tokoh agama dan penyebar ajaran Islam. Kompleks ini menawarkan suasana ziarah yang lebih tenang karena letaknya jauh dari kepadatan pusat kota.
Rute menuju Krembung dapat ditempuh dari Sidoarjo melalui Tulangan atau jalur alternatif sesuai kondisi lalu lintas. Aplikasi navigasi dapat membantu mencapai desa tujuan, tetapi petunjuk digital tidak selalu akurat sampai pintu makam. Bertanyalah kepada warga ketika sudah mendekati lokasi.
Fasilitas di sekitar makam desa umumnya sederhana. Untuk rombongan besar, koordinasikan kebutuhan parkir, toilet, dan tempat istirahat sebelum tiba. Langkah ini penting agar kunjungan tidak mengganggu kegiatan penduduk maupun jamaah setempat.
5. Makam Mbah Usman di Sono
Makam Mbah Usman dikenal sebagai salah satu lokasi ziarah lokal di kawasan Sono, Buduran. Riwayatnya berkaitan erat dengan penghormatan masyarakat kepada tokoh yang dipercaya berperan dalam perkembangan kehidupan keagamaan dan permukiman setempat.
Karakter kunjungan di sini cenderung lebih lokal dan tidak selalu seramai makam besar. Hal tersebut membuat peziarah dapat berdoa dengan lebih tenang, tetapi informasi operasional di internet mungkin terbatas.
Sebelum berangkat, pastikan kembali titik makam kepada perangkat desa atau warga. Nama dusun, desa, dan penanda jalan perlu diperhatikan agar tidak tertukar dengan lokasi bernama serupa.
Makam Mbah Usman dapat digabungkan dengan Makam KH Ali Masâud karena keduanya berada di wilayah Buduran. Susunan perjalanan sebaiknya disesuaikan dengan titik keberangkatan, jam kunjungan, serta kepadatan jalan.
6. Makam KH Hamdani di Siwalanpanji
Siwalanpanji merupakan kawasan yang lekat dengan sejarah pendidikan Islam dan pesantren di Buduran. Salah satu tokoh yang dihormati masyarakat adalah KH Hamdani. Makamnya menjadi bagian dari perjalanan spiritual sekaligus pengenalan terhadap tradisi keilmuan Islam di Sidoarjo.
Peziarah perlu membedakan kunjungan makam dengan kunjungan ke lingkungan pesantren. Area pendidikan mempunyai jadwal dan tata tertib tersendiri. Jangan memasuki ruang belajar, asrama, atau fasilitas internal tanpa izin.
Pakaian sopan sangat dianjurkan. Rombongan juga sebaiknya tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan. Apabila datang pada jam kegiatan santri, ikuti arahan petugas agar arus keluar-masuk tetap tertib.
Lokasinya relatif strategis untuk dimasukkan dalam rute Buduran bersama Pagerwojo, Sono, dan Kepetingan. Namun, Kepetingan sebaiknya ditempatkan pada jadwal tersendiri apabila perjalanan dilakukan dengan perahu.
7. Makam KH Ahmad Siroj di Sidoarjo
KH Ahmad Siroj dikenang sebagai salah satu ulama yang memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat Sidoarjo. Makamnya didatangi untuk berdoa sekaligus mengenang kontribusi ulama terhadap pendidikan dan dakwah setempat.
Sebelum berkunjung, konfirmasikan titik lokasi dan akses masuk terkini kepada pengurus atau warga sekitar. Langkah verifikasi penting karena penamaan makam ulama dalam percakapan sehari-hari terkadang menggunakan nama panggilan, nama keluarga, atau nama kampung.
Seperti di kompleks lain, peziarah hendaknya tidak menjadikan makam sebagai tempat mencari benda, melakukan tindakan merusak, atau meninggalkan barang ritual. Fokus kunjungan adalah berdoa, mengingat kematian, dan mempelajari keteladanan tokoh.
Rekomendasi Rute Ziarah
Tujuh makam tersebut tidak ideal dipaksakan dalam satu hari, terutama jika ingin berkunjung tanpa terburu-buru. Pembagian dua hari lebih nyaman.
Hari Pertama: Buduran dan Kepetingan
Rute yang dapat dipertimbangkan:
Mulailah pada pagi hari. Tempatkan Kepetingan pada siang atau sore awal setelah memastikan kondisi cuaca dan transportasi. Jangan mengambil perjalanan perahu menjelang gelap apabila kondisi perairan, penerangan, atau cuaca tidak mendukung.
Hari Kedua: Krian, Krembung, dan Pusat Sidoarjo
Susunan rute yang dapat digunakan:
Urutan aktual perlu disesuaikan dengan lokasi menginap dan kondisi jalan pada hari kunjungan. Perjalanan KrianâKrembung dapat memerlukan waktu lebih panjang pada jam sibuk.
Untuk inspirasi perjalanan darat lanjutan di Jawa Timur, pembaca dapat melihat itinerary wisata Kediri selama dua hari. Sementara itu, pelancong yang merencanakan tujuan internasional dapat membaca panduan destinasi, visa, dan transportasi Rwanda.
Tips Praktis Ziarah di Sidoarjo
Agar perjalanan wisata religi berlangsung nyaman dan menghormati masyarakat setempat, terapkan beberapa panduan berikut.
Periksa informasi terbaru
Jam kunjungan, rekayasa lalu lintas, acara haul, dan akses perahu dapat berubah. Hubungi pengurus makam, pemerintah desa, atau operator transportasi lokal sebelum berangkat. Untuk kebutuhan pengecekan sumber daring secara umum, tersedia pula link terbaru, tetapi informasi lapangan tetap perlu dikonfirmasi langsung.
Pilih kendaraan sesuai lokasi
Sepeda motor atau mobil kecil cocok untuk jalan permukiman. Bus pariwisata tidak selalu dapat masuk hingga gerbang makam. Untuk Kepetingan, tanyakan apakah jalur darat dapat dilalui dengan nyaman atau perjalanan perahu lebih direkomendasikan pada hari kunjungan.
Bawa uang tunai secukupnya
Pembayaran digital belum tentu tersedia untuk parkir, toilet, perahu, makanan, atau sumbangan sukarela. Hindari membawa uang tunai secara berlebihan dan simpan barang berharga dengan aman.
Kenakan pakaian sopan
Gunakan pakaian bersih, longgar, dan pantas untuk tempat ziarah. Bawalah penutup kepala, perlengkapan salat, payung, atau jas hujan sesuai kebutuhan.
Jaga adab dan privasi
Berbicaralah dengan suara pelan, antre dengan tertib, dan jangan melangkahi makam. Mintalah izin sebelum memotret orang, bagian dalam kompleks, atau kegiatan keagamaan. Ikuti aturan pemisahan area apabila diberlakukan.
Jangan bergantung penuh pada navigasi digital
Titik peta mungkin mengarah ke gang belakang atau jalan yang tidak cocok bagi mobil. Perhatikan papan petunjuk dan tanyakan rute kepada warga. Simpan nama desa, kecamatan, serta nomor kontak lokal jika tersedia.
Hindari klaim sejarah yang belum terverifikasi
Tradisi lisan memiliki nilai budaya, tetapi dapat memuat beberapa versi. Sampaikan kisah tokoh dengan frasa seperti âmenurut tradisi masyarakatâ apabila belum didukung dokumen sejarah yang kuat.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Pagi hari antara pukul 07.00 dan 10.00 biasanya lebih nyaman karena udara belum terlalu panas. Sore hari juga dapat dipilih untuk makam yang aksesnya mudah dan memiliki penerangan memadai.
Hindari jam berangkat serta pulang kerja karena lalu lintas Sidoarjo, Waru, Buduran, dan Krian dapat padat. Pada musim hujan, sediakan waktu cadangan dan pantau prakiraan cuaca, terutama jika hendak menuju kawasan tambak Kepetingan.
Malam Jumat mempunyai makna khusus bagi sebagian peziarah sehingga beberapa makam mungkin lebih ramai. Jika mengutamakan suasana tenang, pilih hari kerja di luar agenda haul atau kegiatan keagamaan besar.
FAQ
Apakah makam-makam di Sidoarjo dapat dikunjungi gratis?
Umumnya tidak ada tiket masuk resmi untuk berziarah. Namun, pengunjung mungkin perlu membayar parkir, transportasi perahu, toilet, atau memberikan sumbangan sukarela. Tanyakan biaya sebelum menggunakan layanan.
Apakah semua makam dapat dikunjungi dalam satu hari?
Secara teori mungkin dengan kendaraan pribadi dan waktu yang ketat, tetapi tidak disarankan. Pembagian dua hari lebih nyaman karena lokasi tersebar dari Buduran hingga Krian dan Krembung.
Makam mana yang paling unik dari sisi perjalanan?
Makam Dewi Sekardadu di Kepetingan menonjol karena berada di lingkungan tambak dan dapat dicapai melalui perjalanan perahu. Aksesnya membutuhkan persiapan cuaca dan transportasi lebih matang.
Apakah bus besar bisa masuk ke semua lokasi?
Belum tentu. Sebagian makam berada di jalan desa atau gang permukiman. Koordinasikan tempat parkir dan kendaraan pengumpan dengan pengurus lokal sebelum membawa rombongan besar.
Apakah anak-anak boleh ikut berziarah?
Boleh selama didampingi orang dewasa. Untuk perjalanan ke Kepetingan, perhatikan keselamatan di perahu, paparan panas, dan kondisi jalan. Pastikan anak menggunakan pelampung jika menempuh jalur air.
Apa yang perlu dibawa?
Perlengkapan dasar meliputi air minum, pakaian sopan, perlengkapan ibadah, obat pribadi, uang tunai, payung atau jas hujan, kantong sampah, dan alas kaki yang nyaman.
Apakah boleh mengambil foto di kompleks makam?
Kebijakan setiap tempat dapat berbeda. Mintalah izin kepada pengurus dan hindari memotret peziarah tanpa persetujuan. Jangan menggunakan lampu kilat atau membuat konten yang mengganggu kekhusyukan.
Kesimpulan
Wisata Religi Sidoarjo 2026: 7 Makam Bersejarah untuk Diziarahi memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual di Sidoarjo memiliki karakter yang beragam. Makam Dewi Sekardadu menawarkan pengalaman pesisir, sementara makam para ulama di Buduran, Krian, Krembung, dan pusat Sidoarjo memperkenalkan tradisi keagamaan yang tumbuh bersama masyarakat.
Susun perjalanan minimal dua hari, periksa akses terbaru, dan hubungi pengurus apabila datang bersama rombongan. Yang terpenting, berziarahlah dengan pakaian sopan, niat baik, serta sikap menghormati makam, warga, dan tradisi lokal.
